CERPEN : High Heels Pertama Mama
November 21, 2019
High Heels Pertama Mama

|
A
|
syik sekali Sabtu sore ini. Jarang-jarang Li-El bisa
pergi bersepuluh ke mal dengan teman-teman sekelasnya seperti itu. Mata Li-El
berbinar-binar saat melihat arena ice skating. Dia
rindu sekali meluncur-luncur di atas es.
“Kita main, yuuuk!” ajak Li-El bersemangat.
Teman-temannya justru bengong memandanginya. “Kamu,
kan, pakai rok, nanti susah bergerak, lo,” Petra mengingatkan.
Akan tetapi, Li-El benar-benar ingin bermain. Jadilah,
Li-El, Princess, Andi, dan Danu bermainice skating. Yang
lain memilih menonton dari lantai di atas arena ice
skating.
“Yuhuuu…!” Li-El meluncur gembira.
Li-El memperhatikan teman-temannya. Sepertinya, Andi
paling tidak mahir di antara mereka. Tiba-tiba terlintas ide yang sedikit jahil
dalam benak Li-El.
“Yuk, kita bertanding!” tantang Li-El pada Andi. “Kita
ke seberang, terus balik lagi ke sini.”
Andi ragu-ragu. “Oke,” ujar Andi akhirnya.
Princess terbelalak. “Sekarang sedang ramai. Bagaimana
kalau sampai menabrak?”
Li-El dan Andi memandang sekeliling. Benar kata
Princess.
“Kami akan hati-hati,” ujar Li-El dan Andi bersamaan,
pede sekali.
Mulailah pertandingan itu. Li-El dan Andi bersiap-siap
dan … meluncur! Li-El senang sekali saat Andi tertinggal di belakangnya. Dia
makin bersemangat.
Ups, ada seorang anak sedang meluncur di depan Li-El.
Li-El berusaha menghindarinya. Berhasil! Tapi Li-El jadi kehilangan
keseimbangan dan … gubrak! Li-El jatuh! Dia tersungkur di lantai es. Duuuh …
sakit!
Tiba-tiba, Li-El jadi teringat sesuatu. Dia memeriksa
bagian belakang roknya. Huaaa … roknya tersingkap! Dia cepat-cepat
membenahinya.
Ketiga teman Li-El langsung menghampirinya. Mereka
buru-buru menolongnya berdiri. Li-El berusaha tidak memandang wajah ketiga
temannya. Wajah Li-El seperti kepiting rebus, merah padam. Apalagi saat dia
melirik orang-orang lain. Diam-diam, mereka tersenyum geli. Li-El ingin
menangis.
Li-El langsung mengajak teman-temannya pulang. Tidak
ada yang protes meskipun mereka baru sekitar seperempat jam ber-ice skating. Semua mengerti kalau Li-El maluuu sekali.
“Kenapa tadi aku nekat berlomba dengan Andi?” pikir
Li-El menyesal.
Rasanya Li-El tidak ingin bertemu teman-temannya lagi.
Apalagi teman-teman laki-lakinya. “Li-El mau pindah sekolah!” ujar Li-El begitu
sampai di rumah.
Tiba-tiba saja … Mama jatuh! Li-El buru-buru menolong
Mama dengan kebingungan. Oh, rupanya Mama sedang memakai sepatu high heels. Itu, lo, sepatu berhak tinggi.
Mungkin Mama akan datang ke suatu pesta. Memang Mama
tidak terlalu terbiasa memakai sepatu hak tinggi. Jadi, kadang-kadang Mama
berlatih lebih dulu. Penampilan Mama jadi aneh sekarang. Kaos dan celana
selututnya tidak cocok dengan sepatu hak tingginya.
“Aduh! Li-El bikin Mama terkejut!” keluh Mama. Rupaya
karena terkejut, Mama sampai terpeleset.
“Tadi Li-El bilang ingin pindah sekolah?” Mama
mengernyitkan dahinya.
Li-El mengangguk cemberut.
“Kenapa?”
Mulanya Li-El tidak ingin bercerita. Akan tetapi Mama
pasti tahu juga nanti. Jadi lebih baik bilang semuanya sekarang. Mama
mengangguk-angguk geli saat Li-El selesai bercerita.
Mama berubah serius melihat Li-El cemberut. “Li-El
tahu kejadian waktu Mama memakai sepatu high heels pertama
kali?”
Li-El menggeleng bingung. Mama meneruskan ceritanya.
Waktu itu Mama masih SMU. Mama akan datang ke pesta pernikahan saudara. Mama
merasa harus memakai sepatu hak tinggi.
Mama panik. Sebelumnya Mama belum pernah memakai
sepatu hak tinggi. Akhirnya Mama berlatih dulu. Lalu, tibalah pesta pernikahan
itu. Saatnya mengenakan sepatu high heels.
“Semuanya baik-baik saja. Sampai Mama naik ke panggung
untuk memberi selamat pada pengantin. Tiba-tiba … Mama jatuh waktu naik
tangga,” ujar Mama, setengah geli setengah malu. “Semua orang memperhatikan
Mama. Hampir semua senyum-senyum geli.”
Hi hi … Li-El bisa membayangkan malunya Mama waktu
itu.
“Tapi Li-El kan lebih malu dari Mama.”
“Iya sih,” Mama senyum-senyum. Lagi-lagi Li-El
cemberut.
Mama kembali serius. “Biar sehati-hati apapun, semua orang
pasti pernah mengalami saat-saat yang membuatnya malu. Guru, artis, presiden…,
siapa saja.”
Yaaah … Mama benar juga.
“Sekarang, rasa malu Li-El pasti masih sangat besar.
Tapi nanti pasti menghilang pelan-pelan,” Mama meyakinkan.
Mama benar lagi. Kenapa Li-El ingin pindah sekolah
hanya karena kejadian tadi? Kalau ingat kejadian tadi, muka Li-El memang masih
memerah. Akan tetapi, kalau setiap kali merasa malu Li-El harus pindah sekolah,
entah berapa puluh kali dia harus berganti sekolah.
“Ngomong-ngomong, pengalaman Mama sama seperti salah
satu finalis Miss Universe, lo,” cerita Mama bersemangat. Kata Mama, dulu
pernah ada finalis Miss Universe terjatuh waktu sedang latihan di panggung.
“Aduh, Mama,” protes Li-El, geli. “Masa sama-sama
jatuh saja Mama bangga?”
“Biar saja, yang penting sama!”
Hi hi … Mama memang enggak mau kalah!
0 komentar